Inilah kotamu kini, kota yang penuh sampah dan sumpah serapah. Kamu terdampar di kota asing yang murka, berkejaran waktu. Dimana kamu berada, menjadi salah satu dari keegoisan kota ini dan menjadi pemenang, atau memutuskan tetap berdiam diri, lugu membawa diri, jujur tapi akan kalah tergerus waktu. Apakah kamu tidak lelah, bergelut dengan segala umpama-umpama, berdiri tegak tak tergoyahkan, ataukah suatu saat nanti kau akan tumbang, terbawa segala peristiwa, kemunafikan dan ketamakan ibu kota.
Inilah kotamu kini, kota penuh cahaya lampu warna-warni, kota penuh gedung tinggi. Kota yang selalu berasap. Kapan kiranya tak kau temukan deru menderu-deru di jalan-jalan??Tak akan pernah meski di tengah malam. Inilah kotamu kini, ya...kota yang tak pernah mati.......
Uh, ternyata kotamu kotaku juga kini, tempat kita numpang makan, numpang tidur, cari uang, bahkan buang hajat....juga ikut bermaksiat (Den Mas Nimat say, dengan sedikit revisi). Pyuh...pyuh....masih juga ternganga mulutku menikmati ibukota. Dasar ndeso........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar